Contoh Naskah Drama Tentang Persahabatan

Teks drama tentang persahabatan bisanya dimainkan oleh 4 orang hingga lebih dari 10 orang. Terlepas dari berapa jumlah pemerannya, hal terpenting yang perlu jadi catatan adalah penulisan naskah drama itu sendiri yang tentunya harus di tulis secara lengkap dan deskriptif sehingga para pemeran dapat memainkan karakter masing-masing secara maksimal.

Naskah Drama Tentang Persahabatan 3 Orang Pemeran
“Balon Harapan”

Persahabatan yang sejati hanya didasari dengan kepedulian dan rasa memiliki yang besar. Kesedihan satu orang, menjadi kesedihan bersama, pun sebaliknya. Ketika masalah menimpa, keberadaan sahabat menjadi benar-benar berarti. Mereka serupa rumah kedua selain orang tua. Tempat untuk mencurahkan segala kepenatan dan membagi kebahagiaan. Contoh naskah drama di bawah ini membahas tentang persahabatan yang semoga dapat menginspirasi.

Tema: Persahabatan
Judul:Balon Harapan
Pemeran:

1. Amira
2. Deila
3. Sefi

SINOPSIS DRAMA

Berhari-hari Sefi menghabiskan waktunya untuk bersedih karena kasus perselingkuhan papanya. Ia bercerita pada Deila, tapi masih tetap saja sedih. Hingga suatu saat ia mengenal Amira, sahabat Deila yang dianggap gadis gila oleh Deila. Sefi merasakan kepedulian dan ketulusan Amira untuk membantu menghiburnya. Kegilaan Amira benar-benar membantunya mengatasi hari-harinya lebih berwarna.

NASKAH DRAMA

Deila baru masuk kelas ketika melihat Sefi tersedu di sudut kelas. Tidak ada mahasiswa lain selain Sefi.

Deila : “Ada apa Sef?”
Sefi : “Ehmm... nggak papa.”
Deila : “Kamu menangis gitu masih aja mengelak.”

Deila memeluk Sefi.

Deila : “Apakah masih tentang orang tuamu?”

Sefi mengangguk pelan, tangisannya asih terus menetes pelan.

Sefi : “Papa mengirim pesan ancaman padaku.”
Deila : “Gimana smsnya?”
Sefi : “Jika aku menceritakan perselingkuhan papa pada mama, papa tidak akan lagi menganggap aku sebagai anaknya.”
Deila : “Ya Tuhan, papamu benar-benar keterlaluan.”
Sefi : “Aku kurang apa lagi sebagai anak De? Aku penurut sama mereka. Pendidikan juga lumayan berprestasi. Tapi mengapa mereka seperti ini sama aku?”

Tangisan Sefi meledak. Deila memeluknya erat.

Deila : “Sementara ini, jangan pikirkan tentang masalah ini lebih dulu. Tenangkan pikiranmu. Jika sudah jernih, kita pikirkan solusinya bersama-sama.”
Sefi : “Aku hanya heran, bisa-bisanya papa mengancamku seperti itu. Dan satu lagi, aku sangat kasihan sama mama. Bagaimana perasaan beliau jika diperlakukan seperti ini.”
Deila : “Jangan ceritakan masalah ini pada mamamu. Kasihan.”
Sefi : “Aku juga tidak tega jika melihat air matanya. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan papa terus-terusan seperti ini. Dia pikir aku ini anak kecil? Aku mahasiswa semester 4 De.”
Deila : “Aku mengerti. Tenangkan dirimu dulu.”

Keesokan paginya, Delia menemui Amira di parkiran kampus. Rencananya, ia akan mengenalkan Amira pada Sefi. Karena Amira yang memintanya.

Amira : “Mana Sefi? Katanya kamu akan membawanya hari ini.”
Deila : “Sabar kali Buuuuk, hari ini Sefi agak sedih. Sepertinya ia butuh menjernihkan pikirannya.”
Amira : “Emangnya dia punya pikiran kotor?”
Deila : “Amiraaa... berhenti bercanda kenapa? Aku serius ini.”

Amira memukul pipi Deila pelan.

Amira : “Hahaha iya iya.”
Deila : “Lagian, aku heran banget sama kamu. Kenapa sih sering banget tertarik buat kenalan sama temen-temenku. Kemarin si Anisa, kemarinnya lagi aku juga sudah mengenalkan Bunga, sekarang Sefi. Jangan-jangan kamu lesbi lagi. Apalagi mereka semua yang kukenalkan sama kamu pada cantik semua.”
Amira : “Eh itu mulut apa pancoran? Pengen aku bekap rasanya.”
Deila : “Habisnya, aku heran.”
Amira : “Dulu, aku pernah punya cobaan, yang bagiku amat berat. Di saat terpuruk seperti itu, aku merasa tidak punya teman sama sekali. Sekarang, saat aku mampu melewati semuanya, rasanya aku tak ingin mengulang rasa kesepian itu lagi. Aku juga tidak ingin jika orang lain mengalami nasib seperti aku.”
Deila : “Dulu? Sebelum kita akrab?”

Amira mengangguk.

Deila : “Masalah apa? Aku tidak pernah melihat kamu pernah mendapat masalah berat. Kamu ceria-ceria aja.”
Amira : “Udaaah, lupakan. Yang penting itu udah clear, dan aku menjalani hidupku sekarang. Jadi kapan aku bisa berkenalan sama Sefi?”
Deila : “Ehmmm... besok. Besok gimana? Sore?”
Amira : “Beres. Ajak dia besok ke loteng kampus ya.”
Deila : “Hih... lama-lama aku curiga sama ini anak.”
Amira : “Udaaah... jalanin aja.”

Sore di hari berikutnya pun tiba. Deila datang paling awal. Disusul Amira yang membawa beberapa balon dan kamera pocket.
Deila : “Ngapain juga bawa-bawa balon segini banyak?”
Amira : “Kamu pernah cerita, kalo bagi Sefi, menerbangkan balon di usia sebesar kita itu tidak mungkin. Aku ingin buat kemungkinan itu.”
Deila : “Ah dasar... ada-ada saja.”
Amira : “Ya tapi jangan bengong gitu juga kali. Ikut bantu isiin udaranya.”
Deila : “What? Amiraaaa... kamu bikin aku repot.”
Amira : “Tiup aja, sebelum Sefi datang. Bawel!”

Dengan susah payah keduanya meniup sekitar 15 balon. Tak lama kemudian Sefi datang.

Amira : “Hallo... selamat datang!”
Amira menyambut Sefi dengan melambaikan satu balon di tangannya. Padahal Sefi masih di kejauhan.

Deila menggerutu sendiri.

Deila : “Dasar sok kenal. Udah gitu ngapain pake acara-acara minta kenalan segala.”

Ketika Sefi sampai di dekat Deila dan Amira, ia memandang ke arah balon-balon itu keheranan. Senyumannya melengkung.

Sefi : “Apa yang kalian lakukan?”
Amira : “Supaya keraguanmu sama sesuatu yang tidak mungkin itu hilang. Buktinya, kita bisa kan?”
Sefi : “Hahaha si Deila cerita sama kamu?”

Amira menatap Deila yang masih kesusahan meniup balon terakhir.

Amira : “Eh dodol, buruan. Kita terbangkan balon ini bareng-bareng.”

Deila melirik Amira kesal. Rupanya ia tak perlu lagi mengenalkan Sefi pada Amira. Karena Amira dan Sefi sudah lebih akrab.

Deila : “Ash... jadi sebenarnya kalian sudah kenal?”
Amira : “Aku cuman tahu namanya doang, tapi belum kenal.”
Sefi : “Sama.”
Deila : “Hashhh...”
Sefi : “Oiya, gimana kalau sebelum kita menerbangkannya, kita tulis semua harapan kita di balon-balon ini!”
Amira : “Setuju!”
Deila : “Oke... udah capek banget aku niupnya.”

Mereka bertiga kemudian menulis semua sisi balon-balon itu dengan harapan-harapan menggunakan spidol. Lalu menerbangkannya pelan-pelan. Sembari menerbangkan, Amira memotret Sefi dan Deila. Kedua gadis itu terlihat sangat gembira dengan berbagai pose bersama balon-balon.

Acara sore itu ditutup dengan makan beberapa snack yang dibawa Sefi.

Keesokan paginya. Di dalam kelas, Sefi mendekati tempat duduk Deila.
Sefi : “De, si Amira emangnya jurusan apa?”
Deila : “Dia anak Psikologi.”
Sefi : “Yang bikin ide kemarin si Amira juga?”
Deila : “Iye. Sumpah deh itu anak. Bikin repot aja. Sebelumnya kan aku bilang, kalo ada temenku yang pengen kenalan sama kamu, itu dia noh orangnya. Eh nggak tahunya pake acara perayaan gitu. Yang bikin kesel ternyata dia juga udah sok kenal sama kamu. Jadi tidak perlu lagi aku kenalkan.”

Sefi tersenyum mengembang.

Sefi : “Aku benar-benar bahagia kemarin.”
Deila : “Aku juga. Jarang-jarang kita bisa melakukan hal gila. Tapi kalo sama dia, aku selalu ikutan gila.”
Sefi : “Oiya, apa dia tahu tentang masalahku?”

Deila menggeleng.

Deila : “Aku hanya bilang kalo kamu lagi sedih aja. Tanpa tanya kamu sedih kenapa.”

Sefi tersenyum lagi.

Sefi : “Aku rasa, kemarin itu dia ingin menghiburku, tanpa harus tahu apa masalahku. Aku benar-benar berterimakasih sama dia De. Aku bisa melupakan kesedihanku meskipun sejenak. Aku juga jadi berpikir, bahwa terlalu banyak hal yang masih bisa dijadikan sebagai sumber kebahagiaan.”

Senyum Sefi mengembang, sambil memeluk Deila. Deila sendiri bengong. Ia bahkan tidak berpikir seperti yang Sefi pikirkan. Ia kemudian ingat masa lalu yang ingin dipendam Amira sendiri itu. Rupanya gadis gila itu benar-benar sesuatu.

Sefi berbisik pelan pada Deila.

Sefi : “Amira tidak butuh tahu apa kesedihanku, tapi ia ada untuk menghibur.”

Deila mengangguk pelan lalu ikut berbisik.

Deila : “Amira benar-benar gadis cerdas.”

Demikian contoh naskah drama tentang persahabatan yang diperankan oleh 3 orang. Menunjukkan bahwa persahabatan itu saling peduli, saling memberi, dan menyayangi. Sekalipun waktu dan jarak adalah hambatan, akan tetapi tak mengurangi ketulusan itu sendiri. Itulah seseorang yang sangat layak untuk dijadikan sahabat.



3 Responses to "Contoh Naskah Drama Tentang Persahabatan"

close