Naskah Drama Tentang Cinta 'Cinta Bersyarat'

Naskah Drama Tentang Cinta - Sangat klasik untuk mengatakan bahwa cinta adalah tema dalam naskah drama ini. Tapi cinta juga yang selalu nge-hits untuk dibahas dan dibicarakan. Selalu saja ada hal menarik yang layak dan pantas untuk diceritakan. Berikut ini saya berikan contoh naskah drama tentang cinta, yang secara original saya tulis sendiri. Semoga bermanfaat.

Tema: Cinta
Judul: Cinta Bersyarat
Pemeran:

  1. Aibee
  2. Diko
  3. Via
  4. Beni

SINOPSIS DRAMA

Aibee, Diko, Via, dan Beni adalah empat persahabatan yang sudah terjalin selama 2 tahun belakangan ini. Diko jatuh cinta pada Aibee sejak pertama mereka bertemu. Tetapi perhatian Aibee nampak lebih besar kepada Beni. Persahabatan dengan bumbu cinta itu berkembang seiring waktu. Hingga benar-benar terungkap kepada siapa cinta Aibee berlabuh.

Naskah Drama

Untuk kesekian harinya, pada siang yang agak mendung keempat dari mereka bertemu di sebuah ruang kelas, untuk mengumpulkan dan berdiskusi tentang cerpen yang dibuat masing-masing dari mereka. Aibee dan Beni lebih sering berkomunikasi, dan Diko lebih sering bercanda daripada serius. Sementara Via justru cuek dan makan melulu.

Aibee : “Ben, cerpen punya gue kayaknya kurang ada konfliknya, menurut loe gimana?”
Beni : “Masa sih? Menurut gue udah pas, di bagian ini (sambil menunjukkan teks print cerpen Aibee) kan udah terlihat konflik pertama, kemudian di bagian ini (menunjukkan teks di halaman berikutnya) juga ada konflik. Menurut gue udah pas, nggak kurang nggak lebih.”
Aibee : “Jangan ngada-ada, masa bagian jatuh cinta termasuk konflik?”
Via : “Udeh...udeh..., instirahat dulu. Mending makan.”
Aibee : “Huu, elu mah makan mulu kerjaannya.” (Melirik ke Diko) “Kalo menurut loe Dik?”
Diko : “Jatuh cinta bisa aja jadi konflik, kalo loe jatuh cinta sama orang yang salah.”
Aibee : “Eh bener-bener, konflik tuh. Gue jatuh cinta sama orang yang salah.”
Beni : “Bentar-bentar, kenapa jadi loe gue yang jatuh cinta? Ini kan cerpen?”
Aibee : “Yaelaaa... maksud gue gitu juga kali Ben.”
Diko melirik Beni dan Aibee cuek. Sementara Via masih makan snack.

Diko tiduran sambil main game di gadgetnya ketika Aibee dan Beni masih berdiskusi. Sesekali ia juga merebut snack dari Aibee. Berulang kali Diko melirik Aibee dan Beni, tapi sepertinya mereka berdua sangat menikmati diskusi tersebut.

Beni : “BTW Bee, gue suka cerpen-cerpen yang loe buat. Nggak tahu kenapa klop banget sama hati gue.”
Aibee : “Oh, jadi gara-gara ini trus loe nggak pernah ngerasa kalo cerpen gue kurang?”
Beni : “Bukan. Bukan gitu juga. Baca cerpen loe pertama kali gue udah suka. Waktu baca cerpen loe yang berikut-berikutnya, gue makin suka.”
Diko masih menguping pembicaraan Aibee dan Beni,  dan sesekali melirik ke arah mereka berdua.

Aibee : “Hahaaa makasih Beniii.” Sambil menyenggol bahu Beni.
Merasa cemburu, Diko buru-buru keluar ruang kelas dan pura-pura membeli minuman di kantin. Tak tahunya, Via juga mengekornya.

Diko : “Apaan sih loe, ngikut mulu!” sambil melirik Via.
Via : “Dik, gue tahu elo kenapa keluar kelas tiba-tiba.”
Sambil mengambil makanan di kantin.

Diko : “Kenapa? Gue haus!”
Via : “Makanya, jadi orang jangan belagak cuek. Cewek-cewek pada pergi kalo loe cuek.”
Diko : “Maksud loe?”
Via : “Loe tu mustinya sensitif dikit ama cewek.”
Diko : “Bodo amat! Elu ngomong ape juga gue gagal paham.”
Sekembalinya dari kantin, terlihat Aibee duduk sendirian sambil melihat ke arah teks cerpennya. Diko mendekatinya.

Diko : “Si Beni kemana?”
Aibee : “Dia lagi ada janji sama temennya.”
Diko : “Oh.”

Aibee melirik ke arah Diko sebentar.
Aibee : “Dik, anterin gue dong.”
Diko : “Kemana?”
Aibee : “Udeh, anterin dulu, ntar gue ceritain.”
Diko tidak menjawab, tapi ia bergegas ke atas motornya.

Diko : “Naik!”
Aibee melonjak dan bergegas menyusul Diko. Sementara itu Via ngedumal.

Via : “Dasar kambing. Aslinya kegirangan tuh Diko.”

Aibee ternyata mengajak Diko untuk menemaninya mencari kado. Mereka berdua masuk ke salah satu toko buku, kemudian dengan tergesa ia menarik lengan Diko ke rak Novel. Sementara itu Diko justru ternganga melihat lengannya sudah tergaet lengan Aibee.

Aibee : “Diantara novel ini, ini dan ini, kamu pilih yang mana?”
Diko terdiam, karena perhatiannya belum terfokus pada novel yang terjejer di rak.

Aibee : “Hello... Diko... Loe dengerin gue kan?”
Diko : “Eh iya, iya, sorry. Yang mana? ‘Cinta Bersyarat’, ‘Rona Pipi Gadis Senja’, ‘Cinta dalam Diam’ yang mana ya? Kalo loe tanya gue, gue milih judul yang pertama.”
Aibee : “Alasannya?”
Diko : “Ya... biasanya kan kita seringnya denger tentang ‘cinta tak bersyarat’, nah apa jadinya kalo ternyata cinta itu bersyarat?”
Aibee : “Oh, kalo gue sih judul yang ketiga aja. Seru kali ya, kalo cinta secara diam-diam.”
Diko : “Yaudeh, beli aje. Trus ngapain jugaaa, elu tadi tanya-tanya pendapat gue. Ribet lu.”
Aibee : “Ya kali aja cocok sama loe, ternyata kagak. Hahaha.”

Diko melengos pergi tidak menanggapi. Ia merasa cemburu lagi, lantaran ia tahu, kado itu akan diberikan Aubee pada Beni, karena besok Beni ulang tahun.

Aubee : “Eh loe udah beli hadiah buat Beni belom? Jangan bilang kalo loe lupa.”
Diko : “Udah.”
Aubee : “Besok dateng ama gue ya Dik.”
Diko : “Ha?”
Diko tercengang.
Aubee : “Iya kita dateng berdua, kan juga udah biasa kita jalan berdua.”

Diko manggut-manggut mengerti. Meskipun sering jalan berdua, Diko selalu canggung. Kecuali jika ada Beni dan Via.

Pesta ulang tahun Beni pun datang. Meskipun datang berdua dengan Aubee, tapi ia tetap merasa cemburu. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana perasaannya ketika harus menyaksikan moment pemberian hadiah spesial antara Aubee dan Beni. Ia cemas, kalau-kalau di ulang tahun tersebut, Beni akan mengungkapkan perasaannya pada Aubee. Di tengah lamunannya, Aubee tiba-tiba berbisik pelan di telinga Diko.

Aubee : “Dik, jangan beranjak dari dekat gue.”
Diko berkata cuek, tanpa melihat ke arah Aubee.

Diko : “Emangnya kenapa?”
Aubee berbisik lagi. Matanya terus menatap Diko.

Aubee : “Nggak tahu kenapa, tiba-tiba gue ngerasa deg-degan.”
Diko : “Tenang aja. Semua baik-baik saja.”

Suara Beni menggema dari microfon. Acara ulang tahun itu segera dimulai. Pengunjung bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu ‘happy birthday’. Hingga acara yang ditunggu-tunggu yaitu pemotongan kue dan orang pertama yang mendapat kue tersebut. Yang paling deg-degan adalah Diko. Ia melirik Aubee yang matanya tak beranjak dari Beni.

Beni : “Kalian semua adalah orang spesial bagi saya. Tapi saya tetap harus memilih satu dari kalian untuk kue pertamaku.”

Beni memotong kue pertama, kemudian berjalan mendekati Aubee dan Diko yang berdiri beriringan. Sedetik kemudian, ia mengulurkan kue pertama itu pada Aubee.
Tanpa sepatah kata apapun, dengan senyum lebar, Aubee melepas lengannya dari lengan Diko kemudian menerima kue itu. Lalu menyalurkan sebuah hadiah, yang diduga Diko adalah buku yang dibelinya bersama Aubee kemarin.

Oke. Diko lemas memperhatikannya. Sama sekali tidak meleset, dugaannya benar-benar terjadi di depan matanya. Ia bahkan tiba-tiba merasa sendiri di tengah keramaian pesta meriah itu.
Pesta selesai, Aubee dan Diko pulang berboncengan. Diko sama sekali tak banyak bicara. Begitu pula dengan Aubee. Tiba-tiba Aubee menyodorkan satu hadiah dari belakang punggung Diko.

Aubee : “Nih...”
Diko menghentikan motornya tiba-tiba.

Aubee : “Gue mohon jangan menghadap ke arahku.”
Diko membatalkan untuk menengok arah belakang. Ia kemudian tetap menatap ke depan penuh dengan tanda tanya.

Aubee : “Gue... nggak tahu kapan pertama kali bisa merasakan ini. Perasaan yang tiba-tiba membuatku selalu deg-degan ketika di dekatmu. Aku pernah berpikir, aku jatuh cinta pada orang yang salah. Dan seperti yang kau bilang, jatuh cinta pada orang yang salah adalah konflik. Tapi aku sampai detik ini, aku sama sekali tidak merasa bahwa kau orang yang salah.”
Aubee menarik napas panjang.

Aubee : “Gue jatuh cinta sama elo. Sama sikap-sikap cuek loe. Karena gue ngerasa, sikap cuek loe hanya di permukaan. Bagi gue, loe orang yang amat peduli.”

Diko kemudian dengan pelan turun dari motor dan menghadapkan tubuhnya ke arah Aubee. Dilihatnya, Aubee tertunduk dengan mata terpejam.

Aubee : “Gue bilang, loe jangan menghadap belakang dodol.”

Tanpa kata, Diko justru memeluk Aubee dengan erat. Hal yang sama sekali tak terduga. Sesekali ia menganggap, jangan-jangan ia sedang dikerjain Aubee. Tapi ia meyakinkan diri, jika ini memang nyata.
Aubee tertegun dalam pelukan. Kemudian dengan pelan, telinganya mendengar bisikan dari Diko.

Diko : “Gue suka sama elo, sejak pertama kali ketemu.”
Aubee terkejut, tanpa melepas pelukannya dari Diko.

Aubee : “Cinta dalam Diam, ternyata benar-benar menyusahkan.”
Aubee memukul kecil bahu Diko.

Diko : “Iya. Karena cinta selalu bersyarat.”
Aubee : “Maksudnya?”
Aubee melepas pelukannya.

Diko : “Cinta butuh diperjuangkan. Bukan hanya diam.”
Aubee : “Terus, kenapa loe diam-diam suka sama gue? Kenapa loe gak nyatain cinta ke gue? Loe nunggu gue nyatain cinta duluan? Gue yang agresif, atau loe yang nggak jantan?”
Diko : “Abis gue pikir, loe sukanya sama Beni. Ya gue diem aja.”

Aubee mengangguk mengerti. Karena ia juga merasa kedekatannya dengan Beni lebih besar daripada dengan Diko.

Aubee : “Bagaimana aku bisa selalu dekat denganmu? Jika di saat yang sama aku harus deg-deg an. Mulai kemaren, aku sudah memutuskan untuk memberanikan diri dekat denganmu.”

Perjalanan pulang itu terasa lebih menyenangkan. Karena keduanya resmi menjadi kekasih.
Sepulang ke rumah, Diko langsung menuju kamarnya. Ia membuka hadiah dari Aubee. Sebuah buku bersampul biru muda bergambar ayunan dengan judul yang membelalakkan matanya. Dalam buku tersebut tertulis “Cinta Bersyarat.”

Diko membalikkan buku, dan ia mendapati kertas putih tertempel dengan tulisan tangan Aubee. Aku tak paham tentang Cinta Bersyarat, bacalah agar aku mengerti. Sampaikan padaku jika kamu sudah menemukan jawabannya.
Tak lama kemudian, Diko menerima satu SMS dari Aubee.

Aubee : “Aku sudah mengerti jawabannya, bahkan sebelum kamu membaca bukunya. Makasih.”

Diko menyadari satu hal. Bahwa tidak harus menjadi orang lain saat mencintai seseorang. Karena hanya dengan menjadi diri sendiri, ia baru akan menemukan seseorang yang benar-benar tulus padanya.


0 Response to "Naskah Drama Tentang Cinta 'Cinta Bersyarat'"

Post a Comment

close