Contoh Naskah Drama Tentang Kesehatan

Naskah drama tema kesehatan adalah salah satu skenerio drama yang cukup banyak di cari. Para pencari contoh skenario drama tentang kesehatan ini sepertinya di dominasi oleh kalangan pelajar menengan pertama dan menengah akhir yang memiliki tugas untuk memainkan adegan drama di sekolahan mereka.

Naskah Drama Tentang Kesehatan4 Orang Pemeran

“Endapan MSG”


Zaman yang terkenal dengan kemodernannya berlomba-lomba menawarkan makanan-makanan instan. Tidak hanya makanan cepat saji yang ditawarkan oleh para pemilik rumah makan, tetapi ibu rumah tangga pun sudah difasilitasi untuk membuat aneka makanan secara instan. Sebut saja bumbu-bumbu dapur instan yang kini banyak sekali dipasarkan secara bebas. Padahal cukup berdampak pada kesehatan manusia itu sendiri. Contoh naskah drama di bawah ini dapat dijadikan referensi untuk ikut menyebarkan kepedulian terhadap kesehatan.

Tema: Kesehatan
Judul:Endapan MSG
Pemeran:

1. Bu Tiara
2. Bu Agnes
3. Vey
4. Bu Handoyo
5. Adam

SINOPSIS DRAMA

Vey merupakan mahasiswa gizi yang sedang berkunjung ke rumah tantenya, Bu Tiara. Suatu hari, Bu Tiara bersama dengan Bu Agnes dan Bu Handoyo berencana memasak bersama di rumah Bu Handoyo. Kebiasaan Bu Handoyo yang memasak dengan bumbu serba instan membuat Vey tergerak untuk mengingatkan. Vey kaget karena ketiga ibu-ibu tersebut sama sekali tidak mengerti bahayanya bumbu-bumbu instan.

NASKAH DRAMA

Vey baru bangun tidur ketika melihat tantenya, Bu Tiara sudah siap-siap dan berdandan.

Bu Tiara : “Ayo cepat mandi, ikutan tante masak bareng yuk di rumah Bu Handoyo.”
Vey : “Aduh tante, nggak ah ntar capek.”
Bu Tiara : “E...e...e... kau kan cewek, anti banget sama yang namanya masak. Gimana kalo ntar masakin suami?”
Vey : “Masih lama punya suaminya.”
Bu Tiara : “Oh gitu... ntar, semisal dua bulan lagi ketemu jodoh, trus tahu kamu nggak bisa masak, dia nya pergi, gigit jari dong.”
Vey : “Aku nggak takut. Yang namanya jodoh, juga nggak bakalan pergi. Kalo toh dia pergi, itu namanya bukan jodoh tante.”
Bu Tiara : “Ah ngeles mlulu kamu ini. Ayo buruan, tante tungguin di depan.”

Vey berjalan ke kamar mandi agak tak bersemangat.

Vey : “Memangnya tante sama temen-temennya mau masak apa sih?”
Bu Tiara : “Ntar juga bakal tahu sendiri. Buruan masuk kamar mandi!”

Tidak lebih dari satu jam, Vey sudah keluar kamar dan siap untuk ke rumah Bu Handoyo. Di rumah Bu Handoyo sendiri sudah ada Bu Agnes dan Bu Handoyo yang sedang duduk di teras.

Bu Tiara : “Sudah pada datang, maaf nungguin. Tadi ponakan saya mandi bunga tujuh rupa dulu.”

Vey hanya senyum-senyum di belakang tantenya. Padahal lumayan kesal karena tantenya mengenalkan dirinya dengan cara yang tidak bermartabat.

Bu Handoyo : “Nggak papa, maklum, masih gadis. Kayak nggak pernah muda aja Bu Tiara ini.”
Bu Agnes : “Kalau gitu kapan kita masak-masaknya? Oiya sebenarnya hari ini kita mau buat masakan apa?”

Bu Tiara dan Agnes ikut duduk di teras sambil mendengarkan Bu Handoyo bicara.

Bu Handoyo : “Begini ibu-ibu, karena minggu lalu kita sudah buat kue-kuean, bagaimana kalau edisi kali ini kita buat masakan aja, tahu krispi sambal tomat. Oiya trus si Adam tadi juga minta dibuatin ayam kecap bumbu pedas.”
Bu Tiara : “Siaaap...”
Bu Agnes : “Bu boleh request? Cieilehh request. Mumpung di sini, ntar sekaliyan bikin ayam krispi ya Bu. Saya kepingin tahu gimana cara buatnya.”
Bu Handoyo : “Oh iya, nanti sekaliyan bikin.”

Sampai saat ini, Vey hanya mengekor ibu-ibu itu. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu menahhu soal memasak, tapi untuk sekedar makanan sehari-hari dia sudah mahir.

Keempat perempuan tersebut masuk ke dapur Bu Handoyo. Rumah Bu Handoyo memang mewah, seratus delapan puluh derajat berkebalikan dengan rumah tantenya. Tak ayal dapur Bu Handoyo pun selain super besar, juga sangat bersih, terawat, dan properti dapurnya terlihat mahal-mahal.

Vey membatin.
Vey : “Pantesan kayaknya kok semuanya dibiayain Bu Handoyo.”

Selama beberapa menit berlalu, Vey ikut membantu para ibu-ibu itu memasak. Vey melihat Bu Handoyo mengeluarkan bumbu-bumbu instan dari dalam lemari makanan. Ada tepung bumbu krispi, bumbu kecap, dan penyedap rasa. Semua serba instan. Vey juga melirik di dalam lemari Bu Handoyo masih tersedia aneka bumbu instan serupa. Sudah serupa toko bumbu. Lengkap semuanya.

Vey tergerak untuk mengingatkan, tapi untuk sementara ini ia diam saja. Tidak enak jika tiba-tiba nyelonong memberi nasehat kepada ibu-ibu. Vey menunggu hingga semua masakan itu matang.

Bu Handoyo : “Ini dia, akhirnya semua masakan selesai.”
Bu Agnes : “Wah cepet banget ya kita masaknya.”

Vey ngedumal dalam hati.

Vey : “Yaiyyalah semuanya pake bumbu instan.”

Bu Handoyo kemudian menghidangkan makanan yang kelihatan super lezat dan melimpah ruah itu ke meja makannya.

Bu Handoyo : “Yuk dimakan. Sudah saya sisain tadi buat papanya Adam.”

Bu Tiara, Vey dan Bu Agnes segera menghampiri dan mengincipi semua makanannya. Vey sendiri mengakui kelezatannya. Tapi ia sudah tak sabar untuk mengutarakan niatnya.

Vey : “Ibu-ibu, sebelumnya saya mohon maaf jika saya lancang berbicara tentang hal ini. Tapi saya harus menyampaikannya karena ini cukup berbahaya dalam jangka panjang.”

Bu Handoyo, Bu Tiara, dan Bu Agnes terlihat memperhatikan Vey serius.

Vey : “Saya mengakui kelezatan masakan ini semua. Sudah tidak diragukan lagi pokoknya. Tapi saya sarankan untuk tidak terlalu banyak menggunakan bumbu yang serba instan. Saya tahu...”

Ucapan Vey tiba-tiba terputus ketika Adam, anak Bu Handoyo masuk dapur dan mengambil minuman dari dalam lemari es.

Bu Handoyo : “Itu anak saya Vey, namanya Adam.”

Vey tersenyum sebentar ke arah Adam. Dalam beberapa detik mata mereka bertemu. Adam tersenyum balik untuk sekedar basa-basi atas perkenalan itu. Vey mengakui, Adam sangat ganteng. Bahakn tingkat kegantengannya melebihi kegantengan mahasiswa yang ia anggap paling ganteng di kampusnya.

Bu Tiara : “Hayooo ngelamun. Lanjutkan tadi apa yang ingin kau sampaikan. Kau tahu apa tadi?”

Tak disangka, Adam justru ikut bergabung di meja makan.

Vey : “Eh iya... begini ibu-ibu...”

Suara Vey agak lebih lembut, malu karena Adam juga mendengarkan.

Vey : “Saya tahu bahwa menggunakan bumbu-bumbu instan selain lezat, juga cepat. Tidak butuh waktu lama untuk memasaknya. Aku yakin ibu-ibu berpikir ini sangat memudahkan. Akan tetapi, ini sangat berbahaya di jangka panjang.”
Bu Tiara : “Tapi Vey, ini kan sudah ada izin BPOM nya. Berarti sudah lolos uji kan?”
Vey : “Meskipun BPOM sudah mengizinkan beredarnya bumbu-bumbu instan ini, yang dijamin kesehatannya, tapi kita tak boleh terlalu banyak mengonsumsinya. Tentu kita tahu, semua produk makanan maupun bahan makanan memiliki lama kadaluwarsanya. Dan kita lihat pada tiap kemasan bumbu-bumbu instan ini memiliki lama kadaluwarsa lebih dari satu tahun. Artinya apa?”
Bu Tiara : “Berarti ya layak konsumsi, selama belum melewati masa kadaluwarsanya.”
Vey : “Tante, ini bukan maslah layak dikonsumi. Aku memberi tahu lama kadaluwarsanya agar kita juga sadar bahwa bumbu-bumbu ini juga mengandung bahan pengawet, perasa, atau mungkin pewarna, atau dalam istilah kesehatan sering disebut dengan MSG. Selain tidak sehat, MSG ini sulit diuraikan oleh tubuh. Karena itu, jangan menggunakannya setiap hari, karena tubuh kita butuh waktu untuk menguraikannya. Agar tidak terjadi endapan MSG dalam tubuh.”

Ketiga ibu-ibu itu mengangguk bergantian. Matanya masih melotot serius ke arah Vey. Menantikan uraian-uraian Vey berikutnya. Sementara itu, Adam justru memandanga Vey kagum.

Vey : “Saya tidak melarang atas pemakaian bumbu-bumbu ini, tapi paling tidak bisa mengurangi. Mungkin satu bulan sekali. Lagipula, banyak bumbu instan sekarang yang beda banget sama rasa yang kita inginkan. Ini kan untuk masakan sehari-hari Bu, kasihan kalau setiap hari anak-anak kita makan makanan berbumbu instan seperti ini. Dampaknya buruk lo Bu, endapan MSG bisa menyebabkan stroke, kanker dan kerusakan hati dalam jangka panjang.”
Bu Handoyo : “Oh jadi begitu, ya ya ya, saya mengerti sekarang. Makasih lo Nak Vey, sudah mengingatkan kita. Kalau tidak diingatkan, saya sudah pasti mengonsumsinya setiap hari.”
Bu Agnes : “Kelihatannya Vey ini pinter masak juga ya. Wah pantes ini untuk calon mantu Bu Handoyo.”
Adam : “Hahaha Bu Agnes, kasihan si Vey kalo nikah sama saya. Saya mah mahasiswa tulen yang masih ngatongduit sama orang tua.”

Vey tersenyum tersipu malu. Ia bukan pinter masak, ia hanya lebih tahu soal bahayanyan dampak endapan MSG ini.

Demikianlah contoh dialog drama singkat tentang kesehatan, semoga dapat dijadikan sebagai referensi yang berguna bagi kalian.



0 Response to "Contoh Naskah Drama Tentang Kesehatan"

Post a Comment

close