Skip to main content

DPR Tolak Kenaikan Cukai Rokok, Seperti Ini Potret Konsumsi Rokok di Indonesia

kenaikan cukai tokok ditolak dpr
Industri rokok sedang mendapat tekanan seiring dengan rencana pemerintah yang akan menaikkan cukai, termasuk cukai rokok. Namun demikian, parlemen tampaknya belum menyetujui khusus untuk kenaikan cukai rokok.

Pemerintah dan Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) memang sudah menyepakati rencana penerimaan Cukai Hasil Tembakau (CHT) di 2020 menjadi 9%.

Penerimaan ini naik dari usulan sebelumnya dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan sebesar 8,2%. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan kenaikan target penerimaan menjadi 9% ini mengharuskan pemerintah menaikkan tarif cukai rokok di atas 10% atau double digit di 2020.

Meskipun, kenaikan penerimaan CHT disepakati sebesar 9%, namun, untuk kenaikan tarif cukai rokok di atas 10% ditolak keras oleh DPR RI. Hal ini disampaikan oleh anggota Banggar Fraksi Gerindra Bambang Haryo.


"Cukai rokok ini saya sudah sampaikan ke Dirjen Bea Cukai, saya menolak dengan tegas kenaikan tarif cukai double digit tahun depan. Saya minta untuk tidak dinaikkan," ujarnya saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (3/9/2019).

Sentimen ini membuat saham emiten rokok di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak variatif pada sesi I, Selasa ini, setelah kemarin amblas bersamaan.

Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) terkoreksi sebesar 1,09% di level Rp 65.675/saham, PT Bentoel International Tbk. (RMBA) juga turun hingga 2,40% di level Rp 326/saham. Adapun dua emiten rokok yang menguat adalah PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang naik 0,76% di level Rp 2.650/saham dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) yang menguat 0,50% di level Rp 200/saham.

Lalu seperti apa konsumsi rokok selama semester I-2019?

Data riset pasar Nielsen mencatat bahwa total volume penjualan industri rokok dalam negeri mengalami koreksi sebesar 8,6% secara tahunan di semester I-2019 menjadi hanya 118,5 miliar batang dari sebelumnya 129,6 miliar batang di semester I-2018.

Jika ditelusuri lebih rinci, volume penjualan rokok Sigaret Kretek Mesin rendah tar nikotin (SKM LTN) membukukan penurunan paling dalam sebesar 16,3% year-on-year (YoY), dari 46,9 miliar batang menjadi 39,3 miliar batang.

Sementara itu, penjualan rokok SKM FF, atau kretek mesin full flavor, yang menyumbang hampir 45% dari penjualan rokok nasional juga terkoreksi meski cenderung stagnan.

Pada semester I-2019, penjualan SKM FF turun 0,75% menjadi 52,8 miliar batang dari sebelumnya 53,3 miliar batang di paruh pertama tahun lalu.

Selain itu, penjualan rokok kretek tangan juga tercatat melemah 11,8% YoY menjadi 19,8 miliar batang, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 22,4 miliar batang.

Uniknya, kondisi penjualan rokok domestik yang mengalami penurunan pada semester pertama tahun ini berbeda dengan perolehan yang dibukukan oleh pemain besar industri rokok, seperti Gudang Garam dan HMSP.

Melansir siaran pers GGRM pada 27 Agustus lalu, perusahaan mencatat peningkatan volume penjualan mencapai 14,78% secara tahunan, dari 40,6 miliar batang menjadi 46,6 miliar batang.

Lalu, jika dilihat dari perolehan rupiah, total penjualan domestik dari produk SKM milik GGRM naik 18,84% YoY menjadi Rp 47,48 triliun, sedangkan untuk produk SKT naik tipis 4,11% YoY menjadi Rp 3,8 triliun.

Lebih lanjut, HMSP juga masih membukukan peningkatan penjualan pada paruh pertama tahun ini, meski tidak sebesar GGRM.

Hingga Juni 2019, penjualan produk SKM HMSP tumbuh 4,94% secara tahunan menjadi Rp 35,93 triliun dari sebelumnya Rp 34,24 triliun.

Akan tetapi, berbeda dengan GGRM, penjualan produk SKT keluaran HMSP mencatatkan kontraksi 4,46% YoY, dari Rp 9,32 triliun di semester I-2018 menjadi Rp 8,91 triliun di semester I-2019.

Comment Policy: Silakan tuliskan komentar yang relevan. Komentar yang tidak memenuhi pedoman atau memuat unsur negatif tertentu tidak akan ditampilkan.
Buka Komentar
Tutup Komentar
close