Skip to main content

Siapa Sukiyat? Ini Sosok Pembuat Mobil Esemka

Siapa Sukiyat? Pembuat Mobil Esemka
Meteorika.com - Sesaat setelah membolak-balik kemasan iPad 2, seorang ibu bertanya apakah iPad 2 yang akan dibelinya itu buatan Amerika ataukah bukan. Saya kemudian menjelaskan, karena alasan ongkos produksi lebih murah, Apple sebagai pemegang merek (principal) iPad menyerahkan perakitannya kepada Foxconn yang punya sejumlah pabrik perakitan di Cina.

“Jadi iPad di tangan ibu adalah buatan Cina,” tambah saya. “Jika dibuat di Amerika, harganya di Indonesia bisa jauh di atas Rp6.000.000”.

Apple hanya pemegang merek. Komponen pada iPad sebagian besar dipasok vendor. Samsung memasok procesor, Corning Glass/Asahimas layarnya, memori bisa berasal dari Qualcomm atau yang lain.

Sesungguhnya karena alasan mencapai skala ekonomi juga, agen tunggal pemegang merek (ATPM) industri otomotif sudah lebih dulu menggantungkan komponen kendaraan bermotornya pada vendor, dan merakitnya di negara tujuan pasarnya.

Orang kemudian rada kaget saat Sukiyat meluncurkan mobil Esemka yang dipopulerkan Walikota Solo (saat itu) Joko Widodo. Esemka kemudian dikaitkan dengan Jokowi, dan digoreng lawan politiknya untuk menunjukkan kegagalan proyek itu.

Padahal “Esemka itu tidak ada hubungan (bisnis apapun) dengan Pak Joko Widodo,” kata Sukiyat suatu saat.

Sukiyat bukan orang baru di industri otomotif. Dia tahu dan paham, sukses sebuah merek principal juga banyak ditentukan keandalan produk para pemasok. Bosch (unit injection), misalnya, banyak dipakai ATPM, lembaran kaca keluaran Asahimas Flatt Glass digunakan oleh mobil buatan Jepang. Juga unit pendingin Nippon Denso, dan booster untuk rem dan power steering dari Aisin.

Yang dibuat ATPM mungkin hanya komponen power train (tergantung merek), dan mesin. Selebihnya seperti KBNS (Kendaraan Bermotor Niaga Sederhana) Kijang hampir 100% komponen dipasok vendor lokal Indonesia. Kemampuan Nippon Denso menghasilkan unit pendingin dalam jumlah jutaan secara efisien menjadikan perusahaan Jepang itu punya keunggulan kompetitif dibandingkan pesaingnya (Michael Eugene Porter, 1985).

Nippon Denso kemudian mendekati ATPM dengan mendirikan pabrik di Jakarta karena pemerintah serius mengharuskan principal memenuhi ketentuan TKDN (tingkat komponen dalam negeri) secara bertahap dengan menanggalkan komponen impor digantikan komponen buatan lokal (deletion program). Regulasi itu mendorong munculnya banyak usaha swasta membuat pelbagai komponen untuk kebutuhan industri otomotif.

Radiator, saringan oli dan saringan udara sudah lama dihasilkan industri lokal. Baja untuk body dan chasis mobil juga sudah buatan lokal.

Dengan kemudahan mendapatkan komponen dari pelbagai vendor itu, maka siapa pun sesungguhnya bisa membuat mobil. Jadi tidak heran, pengusaha seperti Sinivasan (bos Grup Texmaco) setelah sukses meluncurkan truk militer Perkasa, menyatakan, “bisa membuat tank atau panser sekalipun untuk TNI.”

Bluffing? Tidak. Karena semua komponen penting bisa didapatkan dari vendor yang andal dengan harga kompetitif.

Sukiyat atau Sinivasan tidak perlu membangun pabrik mesin atau body stamping sendiri, karena investasinya besar, dan bisa dianggap tidak ekonomis jika skala produksinya rendah. Mesin bisa dipesan dari pabrikan pemegang merek, seperti PT Pindad memasang mesin Renault diesel turbo charger enam silinder untuk panser Anoa.

Pengusaha otomotif pasti tahu juga, mereka tidak akan mampu bersaing dengan Asahimas (Jepang) atau Sekurit Saint Gobain (Prancis) untuk memproduksi kaca mobil.

Juga tidak mungkin membangun pabrik baja sendiri untuk memperoleh pelat baja bagi pembuatan body atau chasis mobil mereka. Di sana sudah ada raksasa seperti Nippon Steel dan Pohang-Krakatau Steel yang menghasilkan berjenis pelat baja proses canai panas dan dingin yang sudah lama memasok kebutuhan pelat baja industri otomotif.

Sementara mesin bisa pesan ke produsen independen di Cina atau Taiwan. Asal harga cocok dan spesifikasi tidak rumit, mesin bisa diperoleh.

Juga tidak usah berpikir memiliki unit body stamping sendiri. Pesan saja pada industri karoseri yang sudah berpengalaman membuat KBNS Kijang atau bis di Jakarta, Tangerang, Malang, atau Magelang.

Jig and tool untuk kepentingan perakitan di bagian final assembly bisa dipesan di dalam negeri – seperti dilakukan PT Dirgantara yang memesan jig and tool untuk perakitan air frame pesawat N219. Jig and tool merupakan alat bantu untuk memegang dan mengarahkan benda kerja sehingga proses manufaktur suatu produk bisa efisien dan akurat.

Jika modal kurang, Sukiyat atau calon pengusaha otomotif lainnya bisa merakit di sebuah perusahaan perakitan. Dulu saat BMW, Renault, atau Peugeot merintis pasar Indonesia pada awal 1980-an, mereka menyerahkan perakitan kendaraannya kepada PT Gaya Motor di Sunter, Jakarta Utara. Jika produksi tidak mencapai skala ekonomi, membangun pabrik perakitan (final assembly) sendiri berisiko memakan banyak dana investasi.

Mereka tinggal membayar upah biaya perakitannya saja. Maklon serupa itu juga dilakukan industri pakaian jadi, alas kaki, bahkan industri farmasi. Dengan demikian pemegang merek, bisa memusatkan sumber dananya untuk membangun jaringan pemasaran, dan promosinya.

Dengan sinergi antara pembuat komponen otomotif itu, Sukiyat bisa menghasilkan AAMDes (Alat Angkutan Multi Desa) Kiat Mahesa Wintor dalam bentuk purwa rupa yang sudah dipajang pada Pameran Indonesia International Motor Show di Kemayoran April silam.

AAMDes merupakan produksi PT Kiat Mahesa Wintor, perusahaan patungan PT Kiat Inovasi Indonesia (milik Sukiyat) dengan PT Velasto Indonesia, anak perusahaan PT Astra Otoparts Tbk.

Produksi komersial direncanakan antara 3.000 – dan 6.000 unit per tahun yang akan dihasilkan di unit perakitan Bekasi dan Klaten. Kandungan lokal untuk AAMDes baru 68%, artinya masih banyak komponen pokok yang diimpor. Ceruk pasar untuk angkutan perdesaan itu –antara lain untuk mengangkut hasil pertanian atau alat produksi pertanian– masih terbuka lebar.

Jika angkutan perdesaan sukses, Kiat Mahesa Wintor bisa masuk ke jenis angkutan komersial lainnya, apalagi yang bertenaga listrik.

Pasar masih terbuka lebar, dan kita tidak perlu mengolok Sukiyat dengan Esemka, apalagi mengaitkan (secara politis) dengan Presiden Joko Widodo. Tidak ada larangan Sukiyat menyebut mobil buatannya sebagai mobil nasional.

Comment Policy: Silakan tuliskan komentar yang relevan. Komentar yang tidak memenuhi pedoman atau memuat unsur negatif tertentu tidak akan ditampilkan.
Buka Komentar
Tutup Komentar
close