Skip to main content

Ternyata Indonesia Tak Lebih Menarik dari Vietnam, Mengapa?

Meteorika.com - Ada yang salah dengan daya saing Indonesia. Catatan Bank Dunia yang dimiliki Presiden Joko “Jokowi” Widodo menyebut 33 perusahaan hengkang dari Tiongkok akibat perang tarif dengan Amerika Serikat (AS). Tak satu pun yang melirik negeri kepulauan ini.

Sebanyak 23 di antara perusahaan tersebut lebih memilih Vietnam sebagai pelarian, sementara 10 lainnya pindah ke Malaysia, Thailand, dan Kamboja.

“Tolong ini digarisbawahi. Hati-hati. Berarti kita memiliki persoalan yang harus diselesaikan,” kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Padahal jika merujuk indeks daya saing global (global competitiveness index) versi World Economic Forum tahun 2018, posisi Indonesia berada jauh di atas Vietnam.

Dalam urutan negara ASEAN, Indonesia berada di peringkat ke empat setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sementara, Vietnam ada di urutan ketujuh, sebelum Kamboja dan Laos. Perbandingan skor dua negara adalah 64,9 dan 58,1.

Jika ditelisik lebih jauh, produk domestik bruto (PDB) Vietnam hanya seperempat dari Indonesia. Begitu juga dengan jumlah penduduknya yang tidak sampai separuh dari populasi di Tanah Air.

“Masalah itu ada di internal kita sendiri,” tegasnya.

Jokowi mempelajari, ujung tombak permasalahan Indonesia ada di regulasi. Sebab menurutnya, proses memulai bisnis di Vietnam hanya membutuhkan waktu paling lama 2 bulan, sementara di Indonesia bisa bertahun-tahun.

 Ternyata Indonesia Tak Lebih Menarik dari Vietnam

Vietnam memang dekat dengan Tiongkok, baik berdasarkan lokasi, kemiripan bahasa, maupun kepentingan politik. Sejak membuka diri kepada investor luar—medio 1987—Vietnam sudah jadi alternatif bisnis bagi perusahaan Tiongkok.

Saat ekonomi Tiongkok melemah pada 2011, industri manufaktur yang bergerak di sektor auto parts, furnitur, dan garmen di Vietnam melonjak.

Penyebabnya mudah, upah buruh di Vietnam saat itu—dan masih hingga kini—lebih murah 20 persen ketimbang Tiongkok. Tak ayal, nilai tambah industri manufaktur di negara itu bisa naik hingga 17 persen.

Tapi daya tarik Vietnam bukan hanya soal kedekatannya dengan Tiongkok. Vietnam tengah membenahi diri, bertransformasi sebagai negara ramah bisnis dan menjadikan teknologi sebagai gol masa depan mereka.

Goldman Sachs, mengutip South China Morning Post, memprediksi volume ekonomi Vietnam bakal berada di posisi ke-17 di seluruh dunia pada 2025, dengan PDB mencapai AS$450 miliar, naik dari posisi saat ini sebesar AS$186 miliar.

Pertumbuhan ekonominya pada tahun lalu mencapai level 6 persen, dan diperkirakan bakal tetap bertahan untuk tahun ini dan tahun depan.

Keramahan Vietnam terbukti dengan banyaknya perjanjian dagang bebas (free trade agreement/FTA) dengan negara luar.

Vietnam adalah salah satu anggota kemitraan dagang Trans-Pasifik (Trans-Pacific Partnership/TPP). Perjanjian ini memungkinkan Vietnam mengekspor apa pun tanpa tarif ke negara-negara anggota lainnya.

Jangan lupa, TPP adalah salah satu perjanjian dagang terbesar dalam sejarah, diikuti negara-negara yang mencakup sekitar 40 persen ekonomi dunia.

Pada 2018, Vietnam juga menandatangani perjanjian dagang dengan Uni Eropa. Perjanjian ini memungkinkan kedua belah pihak mengekspor barang dagangannya tanpa dikenakan tarif.

Kondisi ini yang kemudian membuat tingkat foreign direct investment (FDI) negara ini menyumbangkan nyaris seperlima dari PDB Vietnam. Adapun tiga negara yang melakukan penanaman modal langsung paling banyak di Vietnam adalah Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan.

Selain perjanjian dagang, LA Times menyebut Vietnam sebagai negara yang responsif terhadap insentif perpajakan untuk investasi.

Mirip Indonesia, Vietnam juga tengah memperbaiki infrastruktur negaranya untuk membuat investor semakin tertarik memarkirkan duit mereka di sana.

Mengulas ulang FTA Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui bahwa Vietnam memang jauh lebih unggul dari Indonesia, terlebih soal kecakapan mereka membuat perjanjian dagang bebas dengan banyak negara.

“Bahkan TPP itu Vietnam sudah. Kita belum,” kata Darmin di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu.

Maka dari itu, Darmin menyebut pemerintah saat ini bakal mengulas ulang semua perjanjian yang ada. Tugasnya akan diberikan kepada Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri.

“Jadi bagi-bagi kerjaan,” tuturnya.

Terkait dengan FTA, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, sampai akhir tahun 2019, pemerintah menargetkan tiga perjanjian dagang bakal dirampungkan.

Ketiganya adalah Kemitraan Ekonomi Komprehensif Kawasan (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP), Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Korea Selatan (IK-CEPA), dan Indonesia-Taiwan Economic Cooperation Framework Agreement (TECA).

“Kita tidak mungkin kompetisi di ekspor dan investasi kalau kita tertutup dan tidak ada perjanjian,” kata Enggar.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adinegara mengatakan, dalam hal perlakuan terhadap investor, Vietnam lebih berani dalam hal insentif fiskal. Vietnam, kata Bhima kepada Beritagar, memiliki instrumen insentif yang lebih spesifik.

“Kalau di Indonesia, pemerintah kasih banyak insentif tax holiday, tax allowances tapi belum tentu investor tertarik. Ada juga kan investor di sektor tekstil misalnya lebih memilih insentif diskon tarif listrik di jam sibuk atau keringanan bea masuk untk pengadaan mesin baru,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga harus memperhatikan persoalan biaya logistik yang bisa mencapai 22-24 persen dari biaya produksi.

Tak kalah penting adalah soal sumber daya manusia (SDM). Indonesia memiliki banyak investasi di sektor digital, namun SDMnya banyak berasal dari pihak ketiga, seperti dari India.

“SDM digital kita kurang kompetitif, yang diajarkan di kampus gak nyambung sama kebutuhan startup. Itu pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki,” tukas Bhima.

Recommeded :

Kumpulan Artikel Menarik Terbaru


Comment Policy: Silakan tuliskan komentar yang relevan. Komentar yang tidak memenuhi pedoman atau memuat unsur negatif tertentu tidak akan ditampilkan.
Buka Komentar
Tutup Komentar
close